Jumat, 01 Januari 2010

Andai Hidupku Seperti Jam Pasir

Menapaki setiap penggal kisah kehidupan. Andai saja hidup seperti jam pasir, yang keseluruhannya telah diketahui, tentu kita bisa memenggal dan menandai setiap bagian perjalanannya. Kalau pun anak panah sang waktu tak bisa ditahan, setidaknya dapat ditata dan diarahkan.

Namun bukan demikian aturan hidup ini. Durasi kisahnya tak diketahui, sedetik di muka menyimpan berjuta misteri dan kejutan tiada henti. Kita yang berusaha keras ‘merencanakan’ hidup, kerap frustasi dengan kejadian tak terperkirakan, bahkan tak jarang liar tak terkendali. Hadiah bahagia yang tiba-tiba, atau duka yang menimpa tanpa terduga. Ada pula mereka yang menjalani hidup dengan naik-turun puncak-lembah kenyamanan-kegamangan tiada henti, namun dalam wujud tawakal sejati. Hidup yang dilakoni bukanlah sekedar perencanaan, apalagi tebakan semata, namun kesadaran atas keberadaan yang sudah terlanjur ini. Dan yang tersisa tinggal-lah pengupayaan yang terbaik, bagi diri dan bagi semua. Karena jika telah berakhir, maka tak mungkin lagi bagi kita untuk membalik ‘jam pasir’ hidup [di dunia] yang hanya sekali ini.